Senin, 13 Juli 2026

Mendengarkan sebuah Proses Menemukan Diri

Mengetik tulisan ini saya berasa nostalgia ketika anak-anak masih usia dini. Mengingat masa dimana saya menjadi ibu yang mempunyai anak yang usianya seperti anak tangga. Tak ada yang bisa saya kerjakan. Pikiran saya hanya berfokus pada anak,anak dan anak. Ketika anak pertama lahir saya langsung berhenti bekerja, dengan percaya diri tanpa transisi saya memutuskan untuk penuh waktu menjadi ibu rumahtangga. Sempat oleng hahahaha, stres berat, alhamdulillah saya dipertemukan oleh Institut Ibu Profesional oleh salah satu blogger. Sangat menarik sehingga saya terus mengulik. Dapatlah saya kelas Bu Septi melalui media Wiziq.

Setiap ada notifikasi dari gmail saya sangat bersemangat mengikuti kelasnya dari kurikulum bunda sayang sampai kurikulum bunda cekatan. Tidak cukup menyimak rekaman videonya saya pun membeli bukunya untuk memperdalam materi-materi yang ada didalam kurikulum bunda sayang dan kurikulum bunda cekatan.

Saya sangat bersyukur, berkat materi-materi tersebut saya merasa tidak panik menjadi orangtua. Sepanjang hari dan selama berhari-hari saya mempraktikkannya. Saya merasa sangat produktif, saya bisa menemani tumbuh kembang anak-anak sekaligus saya bisa menjemput rizkiNya melalui jualan buku secara daring (dalam jaringan). Anak pertama dalam segi pendidikan mengambil jalur pendidikan informal. Bisa dibilang saat itu saya merasa sangat tenang dalam menjalani skenario yang diberikan olehnya.

*****
Tantangan itu datang. Tahun 2021 setelah lebih dari setahun dilanda virus covid 19, saya mendapatkan amanah sebuah program dari pemerintah yang bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga. Konsepnya seperti bertanam berkelompok. Nama programnya "Pekarangan Pangan Lestari". Program ini mengharuskan saya untuk keliling kampung mencari tetangga yang mau dijadikan anggota kelompok. Bertemulah saya dengan perangkat desa (lingkungan jika di  pemerintah kota) yang berkata " Ibu Mutia sekalian saja jadi kader posyandu, kami sedang kekurangan orang nih" kata istri kepala lingkungan.

Berdiskusilah saya dengan suami, dan beliau menyetujui dengan asumsi semua kegiatan sinkron dengan amanah yang diberi. Kesibukan baru ini mulai mengikis orientasi komitmen berumahtangga. Anak-anak yang awalnya belajar di rumah satu per satu mulai disekolahkan. Tujuan dari keputusan itu adalah agar saya lebih ringan di rumah. Menurut penglihatan suami saya sangat sibuk.

Kebiasaan birokrasi di negara kita jika ada orang yang dianggap kompeten maka dalam segala hal orang tersebut yang akan selaku dipakai. 

Ada pertemuan dengan dinas A, dinas B, dinas C saya yang diminta ikut oleh kelurahan tempat saya tinggal.

Jika ada pelatihan bla bla bla kembali saya yang diutus.

Ada kegiatan ha hi hu he ho kembali saya yang diutus.

Sudah seperti Aparatur Sipil Negara saja saya tapi tidak dengan gajinya hahahahahah.

Belum lagi membahas kesejahteraan kader posyandu, insentif yang selalu dirapel 4 bulan. Wah sungguh banyak masalah yang ada hahahaha. Selama empat tahun menjadi kader posyandu saya seperti kehilangan hati diri, hidup saya seperti dikejar-kejar oleh sesuatu yang tak berwujud. Saya terjebak dalam rutinitas.

******

Satu per satu anggota keluarga protes, terutama anak-anak. Anak pertama bilang "umma sudah jarang masak buat kita, aku kangen masakan umma".

Anak kedua bilang "umma lauk makanan beli-beli aja, gak segar, ayam goreng sudah tidak renyah lagi".

Anak ketiga dan ke-empat "umma suka ninggalin kami di rumah lamaaaa, kami takut".

****

Astagfirullah, astagfirullah,astagfirullah.

Saya hanya busa istigfar dulu. Setelah tenang saya mulai merenung. Apa benar menjadi kader posyandu ini masuk dalam tujuan hidup saya? Empat tahun berjibaku, yang saya lihat program-program pemerintah hanya di permukaan saja tanpa menyentuh akar masalah. Apalah daya saya yang hanya seorang kader yang pengaruhnya tidak signifikan  dan bukan pemegang kebijakan?

Saya jadi teringat salah satu isi buku Seven Habitnya Steven Covey "fokuslah dengan apa yang bisa dikendalikan" dan yang bisa saya kendalikan adalah keluarga kecil saya.

Akhirnya, per 29 Januari 2026 saya memutuskan untuk berhenti menjadi kader posyandu. Saya memilih untuk fokus dengan apa yang bisa saya kendalikan, keluarga kecil saya.

Saya memulai membangun komunikasi produktif dengan anggota keluarga, belajar mendengarkan dengan sungguh-sungguh tanpa dihantui oleh ketergesa-gesaan.

Alhamdulillah per bukan Juli 2026 saya mengikuti kelas kurikulum bunda sayang ke 11. Semoga saya bisa konsisten dengan apa yang saya komitmenkan yaitu membangun generasi emas melalui rumah.

Aamiin allahumma aamin.

Nb :Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “Perempuan Bicara Rasa” sebagai bagian dari Rangkaian Milad Ipedia ke-6 tahun 2026″Berita Baik