Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Januari 2025

Buku Membaca Nyaring



Apa yang terpikirkan oleh orangtua ketika mempunyai bayi?

Kebanyakan dari orangtua apalagi yang mempunyai bayi pertama fokus terhadap berat badan anak karena hal itu terlihat oleh mata. Tapi bagaimana dengan kemampuan berpikir anak alias perkembangan otak anak? Sebagian besar dari orangtua lupa bahwa otak pun perlu penambahan berat.

Bagaimana caranya?

Ibu Roosie Setiawan menjelaskannya di buku “Membacakan Nyaring” ini. Terinspirasi dari bukunya Jim Trelease Bu Roosie menjelaskan beberapa fase stimulasi literasi kepada bayi lewat membaca nyaring.

Fase-fase tersebut adalah pertama, fase mendengar.

Ke dua, fase mengamati.

Ke tiga, fase bergumam.

Ke empat, fase berceloteh.

Ke lima, fase membuat kata.

Ke enam, fase membuat kalimat.

Sebelum anak-anak kita masuk pada fase sekolah dasar yang sudah memasuki teknis belajar membaca di buku ini dijelaskan anak harus dirangsang dengan stimulasi pra membaca yaitu ngobrol, bernyanyi, dan membaca nyaring.

****

Membaca buku ini saya merasa flashback dimasa anak-anak ketika bayi, saya mempunyai bayi pertama di tahun 2013 sedang buku ini terbit tahun 2017. Alhamdulillah sejak hamil saya sudah membacakan buku ke anak-anak. Hanya saja saat itu semua buku saya bacakan. Sedangkan di buku ini dijelaskan tiap fase anak beda juga jenis buku yang digunakan. Tapi tak mengapa buku ini masih sangat relevan untuk saya karena saya seorang kader posyandu yang tugasnya mendampingi ibu-ibu yang mempunyai bayi. Saya bisa menjelaskan apa saja manfaat yang bisa didapatkan dari kegiatan membacakan nyaring kepada bayi mulai dari manfaatneurologis, pedagogis, sampai sosiologis.

Dengan gaya Bahasa yang mudah dipahami buku ini sangat direkomendasikan bagi orangtua, calon orangtua bahkan semua orang dewasa.


 

Kamis, 16 Januari 2025

Memaksimalkan Peran Orangtua untuk Mendampingi Proses Pendidikan Anak

 

Konon menjadi orangtua itu tidak ada buku panduannya. Setelah melakukan proses pernikahan orang menganggap sudah bisa menjadi orangtua, semuanya serba otomatis padahal dalm kenyataannya tidak. Ada banyak orangtua yang merasa kebingungan, keresahan, kecemasan, kekhawatiran berlebih jika menemukan kondisi anak yang tidak sesuai yang diharapkan khusunya dalam hal Pendidikan.

Buku Rahasia Ayah Edy Memetakan Potensi Unggu Anak ini mencoba memberikan beberapa arahan bagi para orangtua agar tidak panik, lebih peka terhadap anak. Buku dibuka dengan sebuah surat dari seorang anak bernama Joe yang berterimakasih kepada Ayah Edy karena sejak orangtuanya berkonsultasi kepada Ayah Edy dirinya tidak dianggap aneh, ia merasa diterima.

Secara garis besar buku ini ingin bercerita tentang pentinngnya pemetaan. Pada dasarnya Allah tidak pernah menciptakan produk gagal. Anak-anak hadir ke dunia sudah dibekali oleh potensi-potensi, ibarat smartphone anak-anak sudah dibekali aplikasi setelan pabrik tinggal diaktivasi. Nah pertanyaannya apakah orangtua bisa mengaktivasinya?

Bagian tentang aktivasi ini dijelaskan di bab ke tiga yang berjudul 5 Langkah Pemetaan Potensi. Ayah Edy bilang “ada kunci sukses orang gagal dan kunci sukses orang sukses”. Eh gimana-gimana? Ternyata semua memang ada polanya. Resep Sukses orang gagal itu MMMH (money, money, money,happy) sedang resep sukses orang sukses itu HTEM (happiness, totality, expertise,money) bagaimana penjelasannya? Kayaknya lebih seru langsung baca bukunya.

Buku ini ditutup dengan 17 pertanyaan dari para orangtua untuk Ayah Edy di platform media social milik Ayah Edy dan 5 cerita inspiratif dari para orangtua yang anaknya dicoaching oleh Ayah Edy.

*****

Jika saya membaca kisah inspiratif yang dituliskan di buku ini sepertinya dari keluarga menengah ke atas hehehe ya kan secara bisa mengadakan budget konsultasi hehehe dan rata-rata untuk mempertajam potensi diri mereka di sekolahkan di luar negeri. Saya sempat mengernyitkan dahi, bagaimana dengan keluarga menengah ke bawah????

Ayah Edy menjelaskannya pula dengan detail dalam buku ini yang intinya ada kemauan dari orangtua untuk mendampingi anak-anak menemukan versi terbaik mereka.

 


 

Kamis, 24 September 2020

Bedah Buku Raising Reader in Digital Era

Pernahkah berpikir Mak?

Dulu, saat kita jadi anak kecil rasanya orangtua sangat mudah mendidik anak-anaknya. Dibentakin, dipukul, dipelototin tetep aja pulang ke rumah.

Sekarang???
Boro-boro. Suara orangtua rada seriosa aja, anak udah main kabur aja sama teman facebooknya.

Dulu, anak-anak main di rumah tetangga seharian, nangkepin kepiting, ikan kalo rumahnya dekat sungai pulangnya magrib orangtua enjoy aja, orang sekampung jagain anak-anak.

Sekarang???

Boro-boro. Anak main di rumah tetangga hati was-was termakan berita kriminal. Anak cewek diperkosa yang cowok disodomi. Belum lagi ancaman predator pedofil. Widiiiiiii, Makmut pengen ngekep anak di rumah aja gak boleh keluar. 

Apa itu solusi?

Oh tentu bukan.

Bedah buku tadi malam mengingatkan saya tentang salah satu kajian pengasuhan mengapa anak-anak jaman 70an lebih tangguh daripada generasi millenial. 

Alasannya, dulu itu generasi cembung mak kalau boleh saya memberikan istilah.
Mengapa generasi cembung? Karena rival orangtua cuma TVRI. Anak tahun 80an saingan orangtua paling cuma RCTI sama SCTV udah itu aja.

Lha sekarang?
Siapa saingan mamak sama aba dalam berebut pengaruh ke anak??

Banyak mak lebih tepatnya sangat banyak. Ada facebook, instagram, tik tok, youtube, webteen, line, sama apa itu aplikasi jodoh-jodohan  gak tau saya. Ini menurut pengetahuan Makmut ya yang gak Makmut tau mah buanyak hehehe. Zaman digital, zaman serba instan, serba mudah. Menginginkan sesuatu hanya dengan gerakan jempol.

Apa pengaruhnya terhadap anak-anak kita?

Banyak mak (lagi) wkwkwk.
Era digital yang sangat memudahkan kita dalam beraktivitas ini mempengaruhi motorik anak baik itu motorik kasar maupun halus, fisik, neurologi, kognitif, moral, bahasa, sosial dan identifikasi gender.

Contohnya contohnya makmut?

Lha gimana gak berpengaruh mak dulu jaman kita kecil mewarnai gambar pake pensil warna, krayon, spidol, cat air, cat minyak. Goresnya pake tekanan.

Sedang anak jaman now? Tinggal geser telunjuk makgeeess Hahha .

Main bolanya anak jaman dulu keluar keringat mak, lari-lari, menendang bola.

Sekarang?
Main bola cukup pak jempol kanan dan jempol kiri. Wuuuaaaa makmut pengen teriaaaak.

Contoh yang lain masih banyak lain kali sharing lagi ye mak (muach)

*****
Era digital seperti pisau bermata dua. Jadi harus menggunakannya dengan bijaksana.

Nah, bagaimana persiapan kita sebagai orangtua???

Sudahkah kita  mempersiapkan 
✅mental.
✅cara menggunakan Internet dengan baik alias adab dalam berselancar di dunia maya.
✅ perangkatnya, gadget, wifi, paket data.

Kalau belum? Ayo disiapkan.

Berikutnya, memahami karakter anak generasi digital. Biar otak kita gak umup mak wkwkwk.
Apa saja itu?

✅Ambisi besar
❤️Cenderung praktis dan instan
✅Cinta kebebasan
✅Percaya diri
✅Cenderung detail
❤️Ingin diakui

Setelah kita tahu karakteristik anak generasi digital kita mau tau kan sampai dimana persiapan kita sebagai orangtua untuk membersamainya.

Untuk mengetahui sampai dimana titik kita menyiapkan, kita sebagai orangtua kudu tau karakteristik pola pengasuhan kita.

Bagaimana cara mengetahuinya?

Coba pilih statement  ini mak ya, jawab yang jujur wkwkkw.

1. saya Sering sekali mengatakan tidak pada anak saya
2. Saya suka memberikan hadiah dan mainan sama anak, daripada mereka rewel
3. Saya bahkan tidak tau apa yang dilakukan oleh anak saya, bagaimana karakternya pun saya tidak tau
4. Saya memberikan apa yang mereka mau setelah mereka melakukan tugasnya dengan baik.

Nanti jawaban dari statement yang emak pilih saya taruh di komentar.

*****

Setelah emak pilih salah statement mak tau pola asuh yang emak terapkan selama ini.

Setelah itu baru bisa dievaluasi efektif atau tidak?

Jika berjalan efektif mari dilanjutkan dan tetap diupgrade keilmuannya. Jika belum ayok kita mulai belajar pengasuhan efektif sesuai kebutuhan.

InsyaAllah belajar pengasuhan gak membuat kita overwhelmed alias masih kesusahan, keteteran, kebingungan, galau, terbebani menghadapi masalah anak.

Oke mamak ketjeh 😘 Demikian sharing bedah buku yang bisa makmut ambil hikmah.

Jangan lupa tetap belajar, belajar dulu, belajar lagi, belajar terus πŸ˜€

#CarengRu
#BacaBarengLebihSeru
#CarengRuBatch7

Selasa, 15 September 2020

Review Buku "25 Sahabat Rasul"


πŸ“š Judul: 25 Sahabat Rasul
✒️ Penulis: Ridwan Abqari
πŸ–¨️ Penerbit: DAR Mizan!
πŸ“† Tahun: 2017
πŸ“– Tebal: 107 halaman
πŸ§•πŸ»Reviewer: Sri Mutiara


Dari jaman sekolah saya paling suka buku yang ditulis berima. Karena satu bait hanya terdiri 4 baris sehingga mudah diingat.

Buku 25 Sahabat Rasul menceritakan kisah para sahabat secara singkat dengan penulisan berima.

Saya rekomendasikan buku ini untuk dibacakan secara nyaring oleh para ibu hamil kepada janinnya yang berusia 4/5 bulan karena sistem pendengaran sudah berkembang. Selain untuk koleksi kosakata baik pula untuk memperkuat fitrah keimanannya.

Dari skala 10, 7 bintang untuk buku ini.

Senin, 14 September 2020

Review Buku ; Parenting with Heart

πŸ“š Judul: Parenting with Heart
✒️ Penulis: Elia Daryati & Anna Farida
πŸ–¨️ Penerbit: KAIFA
πŸ“† Tahun: 2014
πŸ“– Tebal: 190 Halaman
πŸ§•πŸ»Reviewer: Sri Mutiara

Tak lelah saya membaca buku-buku tentang pengasuhan. Menjadi orangtua adalah salah satu kecakapan hidup yang tidak bisa datang secara otomatis ketika kita menikah lalu mempunyai anak.

Laiknya pemain bola yang membutuhkan kecakapan khusus, ilmu khusus begitu pula dengan menjadi orangtua.

Jika kita abai dalam hal ini maka bersiap-siaplah untuk menghadapi realita yang akan membuat terkaget. Merasa sudah sepenuhnya berupaya mendidik ternyata perilaku kita justru merusak anak.

Buku yang membahas konsep diri anak, fitrah ayah dan ibu, hal-hal yang dianggap tabu dibicarakan kepada anak tentang sex misalnya serta bagaimana pola komunikasi orangtua kepada anaknya yang menginjak remaja.

Saya sangat suka membaca buku-buku pengusaha dengan gaya tulisan orang ke dua. Memaparkan bagaimana anak-anak yang dianggap bermasalah oleh orangtua mereka di dalam ruangan konseling penulisnya.

Jika boleh kita jujur, ketika anak-anak sedang bermasalah  sejatinya orantuanyalah yang punya masalah.

Dari skala 10 saya memberikan 8 bintang untuk buku ini. Gaya bahasanya ringan, spasi tulisan agak renggang jadi mata yang membaca gak ruwet. Buku ini sangat saya rekomendasikan bagi para orangtua yang bersemangat belajar ilmu pengasuhan dan memutar dosa-dosa pengusaha di masa lampau.

Rabu, 19 Agustus 2020

Review Buku " Bukan Emak Biasa" Refleksi psikologis pengasuhan anak.


πŸ“š Judul: BUKAN EMAK BIASA
✒️ Penulis: FITRI ARIYANTI ABIDIN
πŸ–¨️ Penerbit: PT. KABA MEDIA INTERNUSA
πŸ“† Tahun: 2017
πŸ“– Tebal: 240 HALAMAN
πŸ§•πŸ»Reviewer: SRI MUTIARA

Kecintaan, kerendahan hati, kejujuran dan keinginan berbagi sangat mewarnai buku ini.

Buku yang ditulis dengan penghayatan dan cinta dari seorang ibu.

Peran dan penghayatan yang disertai dengan ilmu psikologi sesuatu dengan latar belakang pendidikan beliau.

Dalam buku ini menyajikan solusi, pendapat yang santun dari berbagai topik yang biasa dijadikan "mom war".

Pendapat beliau yang menjelaskan bahwa antara ibu bekerja dan ibu rumahtangga itu bukanlah stratifikasi tapi diferensiasi semua mempunyai resiko dan konsekuensi.
Dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
Bahwa keluarga itu bukan alasan untuk kita sebagai pribadi yang tidak produktif.

Tema-tema yang tak lekang dari kondisi dunia ibu-ibu saya rasa, seperti cinta tak bersyarat, kepaksa dasar pengasuhan anak, dinamika perkembangan anak, menghadapi persoalan anak kontemporer serta berkenalan dengan para partner ibu, siapa sajakah itu? Saya rasa sangat menarik untuk kita ketahui.

Yang sangat berkesan dalam buku ini bagaimana beliau menjelaskan bagaimana menghadapi tingkah polah anak-anak yang sangat komplit. Mulai dari kesedihan, kegembiraan, ketakutan, kesulitan bahkan kelucuan-kelucuan khas anak-anak.

Tak melulu teori yang hanya berakhir sebagai teori saja, namun teori yang benar-benar bermanfaat bagi kehidupan pengasuhan anak-anak.



Sabtu, 08 Agustus 2020

Review Buku "Anak Bertanya, Anda Kelabakan"


πŸ“š Judul: ANAK BERTANYA, ANDA KELABAKAN
✒️ Penulis: LAYLA TM
πŸ–¨️ Penerbit: AQWAM
πŸ“† Tahun: 2009
πŸ“– Tebal: 136 HALAMAN
πŸ§•πŸ»Reviewer: SRI MUTIARA

Saya teringat suatu tips dari praktisi parenting, beliau berkata untuk memperkuat bonding ke anak bisa dilakukan 3 hal. Banyak ngobrol bareng, banyak aktivitas bareng dan banyak main bareng.

Ngobrol bareng anak, sepanjang jadi orangtua pasti ada pertanyaan yang membuat membuat dahi mengkerut.

Salah satunya pertanyaan anak saya yang nomer 2 tentang ibadah, mengapa harus shalat, mengapa kita harus percaya kepada nabi Muhammad yang gak pernah ketemu, kenapa shalat subuh 2 rakaat gak 4 atau 3 rakaat, kenapa rakaat gak disamakan saja.

Kenapa, kenapa, kenapa.
Mengapa, mengapa, mengapa.

Satu hal yang patut kita syukuri ketika anak-anak aktif bertanya adalah kita tahu berarti otaknya sedang berpikir.

Buku ini secara konten sangat membantu orangtua menjawab pertanyaan terkait spiritualitas berdasar dalil.

Hanya saja saya gak cocok dengan lay outnya, gak menarik.

Disediakan contoh pertanyaan dan jawaban pada sub "bekal orangtua".

3⭐/5⭐

Selasa, 04 Agustus 2020

Review Buku "Tuntas Kemandirian"

πŸ“š Judul: *Tuntas Kemandirian*
✒️ Penulis: *Ani Christina*
πŸ–¨️ Penerbit: Fillapress
πŸ“† Tahun: 2019
πŸ“– Tebal: 122 halaman
πŸ§•πŸ»Reviewer: *Sri Mutiara*

Apa sih peran orangtua terhadap anak?
Apakah anak-anak selamanya bersama kita?

Tentu tidak.

Lalu bekal apa yang kita beri ke anak untuk menghadapi masa dimana kita sebagai orangtua tidak lagi bersama.

Kemandirian.

Iya kemandirian. Buat saya setelah membaca buku ini, merasakan betapa susahnya punya anak yang tidak mandiri. Dampaknya bisa sistemik.

Kemandirian adalah fondasi karakter. Anak yang mandiri biasanya lebih percaya diri.

Anak yang mandiri selain memberikan kemudahan untuk kita orangtuanya, juga memberikan kemudahan kepada pasangan hidupnya. 

Apa jadinya jika kita hidup bersama anak kecil dengan tubuh dewasa? Pastinya sangat melelahkan.

Anak yang mandiri mampu memilah, memilih dan mengambil keputusan beserta konsekuensinya.

Tentu tidak mudah membuat anak mandiri, tapi bisa.

Dimulai dari bayi, anak-anak, pra baligh dan pasca baligh. Orangtua wajib tahu tahapan perkembangan anak.

Mendidik anak mandiri repot di awal tapi mudah dikemudian hari, namun jika sebagai orangtua memilih melayani anak dan mengabaikan mendidik kemandirian bukannya mudah di awal tapi repot dikemudian hari tapi, akan merepotkan di sepanjang masa.

Yuk, semangat mendidik anak untuk mandiri.

Senin, 27 Juli 2020

Review Buku " Renungan Dahsyat untuk Orangtua" Karya Abah Ihsan


πŸ“š Judul: Renungan Dahsyat untuk Orangtua
✒️ Penulis: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
πŸ–¨️ Penerbit: Khazanah Intelektual
πŸ“† Tahun: cetakan ke tiga 2015
πŸ“– Tebal: 148 halaman
πŸ§•πŸ»Reviewer: Sri Mutiara

Diawali dengan pertanyaan 
yang menggelitik " mengapa kita ingin punya anak?"

Sebagian besar masyarakat, orang yang sudah menikah sangat wajar memiliki anak.

Kembali ke pertanyaan tadi " mengapa kita ingin punya anak?"

Ingat, yang menginginkan anak kita (orangtua), tapi mengapa pula jaman sekarang ini setelah punya anak, mereka tidak diurus?

Dititipkan sana sini, ke kakek-neneknya, ke baby sitter atau ke day care.

Mengapa setelah punya anak, kita (orangtua) justru tidak punya waktu untuk membersamai anak-anak.

Ingat, anak-anak bukan sekedar darah dan daging yang butuh nutrisi saja. Tapi mereka juga punya jiwa yang butuh kasih, sayang dan cinta dari orangtua.

Membaca buku ini, saya benar-benar merenung. Sesuai judulnya yaitu renungan. Bacalah buku ini dengan pelan-pelan dan tolong jangan baper duluan.

Buku ini membahas tema pengasuhan orangtua secara ideal, secara normatif. Jadi, tolong jangan merasa dihakimi, dikotomi atau apalah yang meningkatkan sensitivitas.

Mengapa saya bilang demikian?
Karena dalam buku ini dominan membahas tentang orangtua yang keduanya bekerja sehingga tak punya waktu untuk anak-anaknya.

Seperti buku yang sudah saya review kemarin di http://penarumahsanak.blogspot.com/2020/07/review-buku-8-pilar-ketahanan-keluarga.html
Bahwa pernikahan itu elemen penting dalam ketahanan bangsa. Seharusnya ada lembaga resmi pemerintah yang mengeluarkan izinnya layak SIM (surat izin menikah). Ada tanggung jawab dalam pernikahan, mendidik anak salah satunya.

Membaca buku ini sukses membuat saya merenung, apakah saya sudah menjadi "orangtua betulan"? Atau hanya kebetulan saja jadi orangtua?

Yuuk merenung

Sabtu, 25 Juli 2020

Review Buku "8 Pilar Ketahanan Keluarga" Karya Cahyadi Takariawan


πŸ“š Judul: 8 Pilar Ketahanan Keluarga
✒️ Penulis: Cahyadi Takariawan
πŸ–¨️ Penerbit: Wonderful Publishing
πŸ“† Tahun: 2018
πŸ“– Tebal: 122 halaman
πŸ§•πŸ»Reviewer: Sri Mutiara

Keluarga adalah elemen terkecil dalam sebuah masyarakat. Ketahanan bangsa bisa dilihat dari ketahanan keluarga sebagai garda terdepan pencetak generasi masa depan.

Menurut data BPS pada tahun 2015 angka perceraian di Indonesia adalah 347.256 yang artinya terjadi 40 perceraian setiap jam.

Begitu pentingnya peran keluarga dalam pembangunan masyarakat dan negara, maka penulis berharap dengan adanya buku ini para keluarga di Indonesia lebih kuat. Tak mudah mengalami kerentanan dan kerapuhan.

Melihat fakta menurut data dan realita yang dihadapi saya sangat tertarik untuk membaca buku ini. Mengingat pada masa lampau keluarga inti pernah bercerai dan meninggalkan luka dalam diri. 
Orangtua yang bercerai, saudara yang berpencar, jiwa-jiwa yang kosong karena kurang kasih dan sayang. Membaca judulnya, memacu untuk segera menuntaskan isinya.

Buku ini ilustrasinya hitam putih, maklum saya mendapatkan dengan harga 30.000 namun isinya daging semua. Saya beri bintang 4 dari skala 1 sampe 5.

Bahwa pernikahan tak melulu tentang cinta, rupa yang fotogenik atau yang paling mendasar legitimasi hubungan biologis. Pernikahan mengandung kata yang lebih kompleks bersatu menjadi kata tanggung jawab.

Bahwa pernikahan, laksana kendaraan yang punya tujuan bayangkan jika kendaraan tidak punya tujuan, ia akan kehabisan bensin dan berhenti tanpa tahu ia sedang berada dimana.

Bahwa pernikahan, laksana badan yang bisa saja sakit dan butuh penyembuhan.

Bahwa pernikahan, adalah dasar dari pembangunan negara dan bangsa.

Saking sakralnya pernikahan, perlu mempertimbangkan alasan untuk melakukannya.
Jangan menikah karena suruhan orang,
Jangan menikah karena usia sudah matang,
Jangan menikah hanya karena rupa,
Jangan menikah jika kamu belum mempersiapkannya.

Menikahlah, jika kamu sudah mempersiapkan ilmunya. Putuskan menikah karena ilmu.
ilmu itu menguatkan.

" Pernikahan adalah sarana bukan tujuan, tetapkan tujuanmu dan kau bisa menggunakan sarana apapun". _ Sri Mutiara _




Jumat, 24 Juli 2020

Review Buku "Marah yang Bijak" karya Bunda Wening


πŸ“š Judul: Marah yang Bijak
✒️ Penulis: Bunda Wening ( Trainer, Terapis, Konselor Pengasuhan )
πŸ–¨️ Penerbit: Tinta Medina, Creative Imprint of Tiga Serangkai
πŸ“† Tahun: 2016
πŸ“– Tebal: 101 halaman
πŸ§•πŸ»Reviewer: Sri Mutiara

Perilaku marah rasanya sudah sangat akrab ditelinga kita. Apalagi jika berhubungan dengan interaksi antara anak dan orangtua. Marah merupakan emosi dasar manusia. Semua manusia punya emosi marah, walaupun sekelas Rasulullah sekalipun. Bedanya hanya diimplementasi sikap marah.

Buku " Marah yang Bijak" karya Bunda Wening ini diharapkan membantu para orangtua agar bisa mewujudkan perilaku marah secara elegan bukan tanpa kendali. Bedakan marah dan marah-marah ya hehehehe.

Pertama kali melihat buku ini saya tertarik dengan judulnya. Sebenarnya saya tidak suka marah-marah tapi kejadian marah-marah alias marah tanpa kendali ini seakan membajak nalar.

Bahasa yang digunakan sangat mengalir, penulis seakan berbicara langsung dengan pembaca. Misalnya pada bab ke 2 tentang tujuan marah, pembaca diminta untuk mengisi assasment. 
Jika tidak ketemu antara tujuan dan hasil yang dicapai, mengapa menggunakan cara yang sama untuk menginginkan hasil yang berbeda?

Yang saya pelajari dari buku ini adalah memisahkan antara sikap dan perilaku. Antara beberapa orang mungkin bersikap sama tentang marah. Namun, perilakunya bisa berbeda-beda.
Ada yang perilaku marah dengan mata melotot, membentak dan memukul. Ada pula yang marah dengan cara yang bijak di sini poin dari buku ini.
Penulis memberikan beberapa metode marah dengan bijak salah satunya dengan relaksasi.
Ada beberapa metode dijelaskan oleh penulis dalam buku ini. 

Untuk para ayah bunda yang masih kesulitan dalam mengendalikan marah buku ini layak untuk dibaca.

Rating yang saya berikan adalah bintang 5 untuk buku "Marah yang Bijak" ini dari skala bintang 1 sampai bintang 5





🟒🟒🟒🟒🟒🟒🟒🟒🟒